4

Ikhlas dalam Bekerja

MediaKALLA.Com – Saya sangat tertarik dengan materi yang dibawakan di Khafilah Club pada Jumat 1 Juni lalu dengan topik “Ikhlas dalam Berkerja”.  Arti “Ikhlas” yang saya dapatkan dari beberapa kamus adalah: Bersih hati; Tulus; Rela; Tanpa pamrih.  Jadi “Ikhlas dalam Bekerja”, bisa saya artikan “Tulus dalam Bekerja” atau “Bekerja tanpa Pamrih”.  Lalu, apakah ini berarti kita bekerja tanpa mengharapkan imbalan / gaji?  Tentunya kita tahu, setiap orang bekerja pastilah mengharapkan suatu imbalan.  Jadi, apakah yang dimaksud dengan “Ikhlas dalam Bekerja” itu?

Saya teringat akan suatu istilah pada ilmu perilaku organisasi: Self-Actualization, yaitu suatu posisi dimana seseorang mempunyai keinginan untuk meningkatkan diri sendiri menjadi lebih baik secara terus menerus “hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari sekarang”, dan orang tersebut melakukannya tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun.  Dengan kata lain, seseorang pada posisi Self-Actualization ini akan melakukan sesuatu dengan Ikhlas.  Lalu bagaimana supaya kita bisa melakukan sesuatu dengan Ikhlas atau kita bisa berada pada posisi Self-Actualization?

Istilah Self-Actualization ini diperkenalkan oleh Abraham Maslow pada tahun 1943 dalam makalahnya “A Theory of Human Motivation”.  Pada makalah tersebut ada suatu piramida yang menggambarkan kebutuhan (bukan keinginan) seseorang yang biasa disebut dengan “Maslow’s hierarchy of needs” atau ”Piramida Kebutuhan Maslow” (lihat Gambar 1).

Gambar 01

Di posisi paling atas tertulis Self-Actualization, dimana sesorang yang berada di posisi ini, sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan untuk mencapai posisi tersebut seseorang harus menguasai posisi kebutuhan sebelumnya yaitu:

 

  • Esteem (Percaya diri) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti dihargai dan menghargai orang lain, pencapaian atau keberhasilan, penghargaan atas karyanya.
  • Love/belonging (Cinta/memiliki) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti pertemanan, keluarga, ketergantungan sesama.
  • Safety (Keselamatan) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti kemanan dari keluarga, keamanan dalam kesehatan, keamanan dalam sumber daya seperti uang.
  • Dan yang paling bawah atau dasar adalah Physiological (Fisiologi) yang timbul ketika terpenuhinya kebutuhan seperti bernafas, makanan, air minum.

Untuk diketahui, kebutuhan seseorang berbeda dari kebutuhan orang lain.  Sebagai contoh, kebutuhan makannya si A berbeda dengan kebutuhan makannya si B.  Si A cukup nasi, ikan dan sayur tapi si B perlu nasi, ayam sama daging.  Begitupun, kebutuhan akan penghargaan, ada yang cukup diberi salam tapi ada yang perlu disanjung.  Tetapi pada posisi Self-Actualization, semua kebutuhan itu sudah terpenuhi sehingga orang tersebut tidak perlu lagi pujian atau penghargaan akan karyanya.

Kesimpulan, untuk kita “Bekerja dengan Ikhlas”, kita harus tahu apa-apa saja kebutuhan (kebutuhan bukanlah keingingan) kita dan memenuhinya akan kebutuhan Fisiologi, Keselamatan, Cinta/Memiliki, dan Percaya Diri. [mk]

 

Makassar, 5 Juni 2012

Zumadi S. Anwar

Direktur Utama PT. Bumi Karsa

About mediakalla

" Keep the spirit for being good and we'll find a better day for tomorrow. "

One comment

  1. sip.. Ihlas dalam bekerja, selalu tersenyum walau itu berat… :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>