Hadji Kalla

Kisah Hadji Kalla yang Menepati Janji

Suatu hari, seorang tamu mampir ke NV Hadji Kalla, berpakaian kain sarung dan topi khas Bugis, dan langsung duduk di kursi tamu dekat pintu masuk. Penampilannya seperti orang kampung kebanyakan dan membawa sebungkus kantung tepung terigu, setengah berisi.

Biasanya tamu dengan pakaian demikian merupakan tamu dari Hadji Kalla, baik dari kampung di Bone atau dari daerah lain. Sudah ada kesepakatan tidak tertulis, kalau tamu yang datang berpakaian tradisional atau berpakaian seperti ulama maka ia adalah tamu Hadji Kalla. Tamu tersebut akan langsung ditemui oleh beliau. Tetapi jika yang datang seperti masyarakat pada umumnya, maka itu adalah calon nasabah yang akan membeli mobil.

Tamu tersebut duduk diam saja di kursi tamu. Sekian lama ia duduk di situ, tidak bicara sepatah pun. Melihat gaya penampilan tamu tersebut Andi Safi yang mejanya dekat dengan ruangan pak Haji ingat kesepakatan tidak tertulis itu. Ia pun menghadap beliau dan menyampaikan ada tamu datang. Namun setelah melongok sekilas, Haji Kalla mengatakan itu bukan tamunya, melainkan tamu pak Safi – untuk urusan beli mobil.

Tak yakin, Andi Safi mengatakan, “Dengan pakaian seperti itu, rasanya beliau lebih pantas jadi tamu pak Hadji. Ada keperluan barangkali.”

Haji Kalla bergeming, dan atas perintah Haji Kalla, akhirnya Andi Safi menghampiri tamu tersebut dan menanyakan maksud kedatangannya.

Benar saja, sang tamu adalah calon pembeli mobil. Beliau memperkenalkan diri sebagai Haji Bauru dari Pangkep, dan baru saja menukarkan simpanan emas batangannya dari hasil menjual coklat untuk membeli mobil pick-up.

Karena kebetulan mobilnya masih indent 3 minggu, pak Safi meminta Haji Bauru kembali lagi setelah satu bulan. Namun beliau menolak karena kalau pulang takut uangnya habis atau diminta orang. Jadi beliau meminta uangnya diambil saja sebagai panjar. Hal ini ditolak oleh Haji Kalla, karena bagi beliau selama belum ada barang tidak boleh menerima panjar apapun dari pembeli.

Setelah berdiskusi dengan kasir akhirnya diputuskan uang Haji Bauru diterima sebagai titipan dan bisa diambil kapan saja, atau sampai mobil pesanannya datang. NV Kalla memang tidak terbiasa menerima panjar dan Haji Kalla tidak pernah mau menerima uang dari pembeli kalau barangnya belum ada. Prinsip ini dipegang sampai akhir hayatnya.

Cerita di atas menyiratkan keteguhan Hadji Kalla dalam memegang komitmen. Menurut beliau, perusahaan tidak boleh mengambil uang muka terhadap barang yang belum ada. Setelah barangnya ada, barulah boleh dikenakan uang muka kalau pembelinya ingin mencicil. Inilah yang menjadi komitmen beliau yang kemudian menjadi komitmen perusahaan pula.

Dari cerita di atas juga tergambar bagaimana kepercayaan nasabah terhadap NV Hadji Kalla. Ia bersikeras menitipkan uangnya daripada membawanya kembali pulang. Ia meyakini bahwa perusahaan tidak akan menyia-nyiakan amanah dan ia merasa lebih tenang uang tersebut berada di kasir perusahaan daripada di tangannya sendiri. Inilah bukti kepercayaan masyarakat terhadap NV Hadji Kalla yang tumbuh dari sifat amanah yang diperlihatkan perusahaan.

Salah satu sifat pembentuk pribadi yang amanah adalah menjaga komitmen atau menepati janji. Seseorang akan disebut amanah atau dapat dipercaya kalau ia memenuhi semua janji-janji yang dibuatnya dengan pihak lain. Sebaliknya, ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang menjaga amanah jika dia tidak dapat memenuhi janji-janji tersebut.

Tidak menepati janji dalam hukum bisnis biasa disebut wanprestasi yaitu suatu tindakan yang mengingkari perjanjian atau kontrak usaha kerja atau lainnya dalam suatu organisasi yang telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak atau lebih yang telah diatur dalam pasal-pasal sesuai isi kontrak perjanjian tersebut. Dalam dunia bisnis sekarang ini, menepati atau memenuhi janji merupakan sifat yang sangat dituntut dari setiap pelaku bisnis. Terlebih lagi pada saat sekarang ini berbagai bisnis semakin kompleks dan saling terkait.  Krisis keuangan global tahun 2008 merupakan salah satu contoh akibat yang ditimbulkan dari banyaknya janji-janji bisnis yang tidak dipenuhi.

 

Janji-janji yang Harus Dipenuhi

Secara garis besar ada tiga macam janji yang harus dipenuhi yaitu janji kepada Allah, janji kepada Nabi Muhammad Saw, dan janji terhadap sesama manusia.

  1. Janji kepada Allah. Hal ini dilakukan dengan melaksanakan kewajiban terhadap-Nya memberikan hak-hak-Nya secara penuh, mengikhlaskan seluruh tindakan dan perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, serta menjauhkan diri dari larangan-Nya. Pemenuhan janji kepada Allah adalah konsekuensi dari butir pertama dari dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh setiap Muslim. Di samping itu, dalam setiap shalat seorang Muslim berjanji kepada Allah bahwa shalat, usaha, hidup, dan matinya adalah untuk Allah Tuhan seluruh alam.( HR Muslim, No. 1848)
  2. Janji terhadap Nabi Muhammad Saw. Janji ini melekat pada kesaksian bahwa beliau adalah utusan Allah. Cara menepati janji tersebut adalah dengan mengikuti seluruh sunnah beliau karena beliau adalah tuntunan dan teladan yang baik dalam segala hal.
  3. Janji kepada sesama manusia. Seseorang harus memenuhi setiap janji yang dibuat dengan orang lain sesuai dengan akad yang disepakati sebelumnya.
  4. Janji kepada diri sendiri. Janji jenis ini mungkin terasa asing tetapi merupakan janji yang paling sering kita buat dan dilanggar. Sering kali kita berjanji kepada diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu tetapi tidak dipenuhi. Misalnya, berjanji untuk shalat tepat waktu tetapi tidak dilakukan. Berjanji untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya tetapi tidak dipenuhi. Termasuk dalam jenis janji ini komitmen yang kita buat untuk diri sendiri. Kita akan bahas hal ini dalam bagian tersendiri.

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu), sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Qs. An-Nahl (16):91

Sumber : Draft Buku The Kalla Way

About mediakalla

" Keep the spirit for being good and we'll find a better day for tomorrow. "

Komentar Anda

%d bloggers like this: