Teladan Keluarga Ibrahim AS

Teladan Keluarga Nabi Ibrahim AS

Bayangkan, di pagi hari yang cerah saat santai sambil membaca koran, tiba-tiba ada berita menghebohkan “Seorang suami meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi di tempat sepi tak bertuan”. Mungkin kita langsung berkata “ ini suami tega nian, tidak bertanggung jawab”. Belum selesai kekagetan kita, tiba-tiba muncul berita lain ” Seorang Bapak membawa anaknya ke gunung dan menyembelihnya. Dan anaknya dengan rela bersedia”. Mungkin kita berfikir lagi…. ” mungkin bapak dan anak ini pengikut aliran sesat yang terkena doktrin kuat sehingga melakukan seperti itu sebagaimana pernah kita dengar bunuh diri massal dari kelompok-kelompok tertentu di Jepang”.

Ternyata kisah di atas bukan rekaan, pernah terjadi dan terus dijadikan sumber inspirasi umat Islam selama 15 Abad. Menggali spirit keteladanan keluarga Nabi Ibrahim a.s. Seorang Nabi yang keturunannya membawa agama-agama besar dunia, agama Islam, Nasrani dan Yahudi. Bahkan kejadian tersebut setiap tahun diperingati dan dinapaktilasi oleh umat Islam melalui ibadah haji dan kurban. Pada ibadah haji, tahun ini saja diperkirakan 4 juta umat Islam seluruh dunia melakukannya. Ibadah qurban tentu lebih banyak lagi, mungkin ratusan juta umat Islam yang melakukannya.

Melalui kedua peristiwa itu Allah menguji Ibrahim dan keluarganya dan berhasil lulus dengan gemilang sebagaimana Allah firmankan dalam Al Qur’an :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya (dengan sempurna). Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (Q. S. 2 : 124)

Ibrahim menunaikannya dengan sempurna, nilai maksimal dan akhirnya Allah menjadikannya imam bagi seluruh manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya kepada jalan yang lurus, serta mengaruniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami karuniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang shalih.” (An-Nahl: 121-122)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:
“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)
Dengan sekian keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala wahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)
Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya. Terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Mari kita renungi kisah tersebut :

Siti Hajar dan Ismail di Lembah Tandus Mekkah

Setiap peristiwa pasti punya hikmah apalagi peristiwa luar biasa yang sengaja Allah ciptakan untuk kelak menjadi pelajaran.
Mengapa Siti Hajar rela ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tempat tak bertuan bersama bayinya Ismail ? Apakah ia tidak protes dengan perginya suaminya meninggalkannya?
Sebagai manusia biasa dan seorang ibu, dia juga protes sebagaimana hadist berikut :

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan sang putra Ismail –dalam usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan di dekat pohon besar, di atas (bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/kantong air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni ini?’ Dia ulang kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.”
(Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)
Apa yang berubah dari Siti Hajar setelah dia bertanya : ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyengsarakan kami.’

Terjadi perubahan paradigma, cara memandang kejadian. Semula dia memandang dengan kacamata manusia, logis-pragmatis. Kalau saya ditinggalkan di sini berdua tanpa perbekalan yang cukup maka lama kelamaan, dia dan anaknya akan mati kehausan dan kelaparan. Maka dia pun protes.

Tetapi kemudian berubah menjadi supralogis-agamis. Kalau memang ini perintah Allah, Siti Hajar yakin seyakin-yakinnya, meskipun suaminya Ibrahim meninggalkannya, tetapi Allah tidak akan meninggalkannya. Allah tidak akan menyengsarakannya. Allah tidak akan mungkin memerintahkan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ……….. (Q.S. 2 : 286)

Kita menemukan kunci pertama : Keyakinan kepada Allah.

Bagaimana logikanya ?
• Dia selama hidupnya selalu berusaha mengisi hidupnya dengan kebaikan. ALLAH mencintai hamba-hambaNya yang mengisi kehidupannya dengan kebaikan, ahsanu amalan, muhsinin.

…..Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. Ali Imran : 134)

Itulah yang diyakini oleh Siti Hajar. Maka dia yakin, Allah mustahil membiarkan hamba-hamba yang dicintaiNya berada dalam kesulitan, kenestapaan, kehinaan.

Apakah Keyakinan saja Cukup?

Waktu pun berlalu dan tinggallah mereka berdua di lembah gersang yang panas tak ada teman. Perbekalan yang dibawa pun tak banyak dan mulai terus berkurang sampai akhirnya habis. Anak yang masih bayi, pun mulai menangis kehausan. Air dan ASI sang ibu juga sudah tak ada lagi. Sang ibu pun bingung, kemana harus mencari air. Tak terlihat tanda-tanda di sekitar tempatnya berada terdapat sumber air. Maka berlarilah dia mencari air. Dengan menaiki sebuah bukit dicarinya air, ternyata tidak ada. Kemudian lari lagi ke bukit yang lain dan juga tidak ada.

Keyakinan yang dimiliki ternyata tidak membuat Siti Hajar diam berpangku tangan menunggu mukjizat. Setelah perbekalannya habis, maka dia pun bergerak, berusaha mencari air meskipun harus mendaki bukit dan berlari dari bukit Shofa ke Marwah yang jaraknya 420 m.

Kunci kedua : Ikhtiar
…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. … (Q.S. Ar-Ra’du : 11)

Ikhtiar yang dilakukannya pun luar biasa. Didasari pada keyakinan akan pertolongan Allah, maka sepanjang usahanya selalu berdo’a kepada Allah.

Kunci ketiga : Do’a yang khusyuk.

Usaha tanpa do’a adalah sombong, do’a tanpa usaha adalah omong kosong.
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al A’raf :55)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Al Baqarah : 186)

Apakah Ikhtiar dan Do’a sudah Cukup?

Terus bolak balik sampai tujuh kali dari dua bukit tersebut dengan terus berusaha tak putus asa dan juga berdo’a kepada Allah semoga ada air untuk anaknya tercinta yang kehausan. Satu kali, dua kali sampai enam kali belum mendapatkan air. Tapi Siti Hajar tidak berputus asa.

Akhirnya, pertolongan dari Allah pun datang. Setelah tujuh kali, dari bawah tempat kaki Ismail, kemudian keluarlah air. Sang Ibu pun bersyukur luar biasa. Dikumpulkannya air itu, dan ternyata di tempat itu terdapat mata air yang terus mengalir, dan terus mengalir sampai sekarang. Itulah sumur air zamzam. Airnya penuh berkah, mengandung mineral istimewa yang menyehatkan. Terus diambil setiap saat apalagi di musim haji. Tapi anehnya, airnya tidak pernah habis.

Kunci keempat : sabar dan tidak putus asa.

 

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(Q.S. Al Baqarah : 45)
”….. dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf : 87)Dari kisah Siti Hajar dan Ismail dapat kita gali kunci keberhasilan Siti Hajar melalui ujian yang Allah berikan yaitu KIDS :
Keyakinan
Ikhtiar
Do’a
Sabar

Wallahu a’lam

syamril

(renungan perjalanan haji pada tahun 2006)

About mediakalla

" Keep the spirit for being good and we'll find a better day for tomorrow. "

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>